"Rammang-Rammang" yang Tak Kalah Indah dari Sungai Mekong di Vietnam

Suatu ketika dalam penerbangan ke Kendari dari Makassar aku duduk di dekat jendela. Sempat tercengang melihat pemandangan yang disajikan dataran Maros dari ketinggian yang tidak jauh dari Bandara Sultan Hasanudin Makassar. Bentuk datarannya seperti dalam film-film cina yaitu berbukit-bukit dengan bentuk setengah lonjong yang dipenuhi dedaunan hijau dan juga dialiri oleh sungai-sungai yang bermuara menuju laut barat Sulawesi Selatan. Rasa penasaran membuat ku langsung mencari informasi tentang dataran tersebut. Dataran indah tersebut ternyata bernama Desa Rammang-Rammang. "Suatu saat aku harus ke desa itu" cuma itu yang ada dalam anganku ketika itu.

10 Septmber 2017 akhirnya aku dan temanku berkesempatan untuk mengunjungi desa tersebut. Butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit dari Kota Makassar atau hanya 30 menit dari Bandara Sultan Hasanudin menuju dermaga yang satu-satunya akses untuk ke Desa Rammang-Rammang. Sesampainya di dermaga kami langsung menyewa perahu dengan harga Rp. 200.000 untuk ukuran perahu kapasitas 5 penumpang dan tak lupa mengenakan topi rajutan daun nipah yang disewakan seharga Rp. 5.000, mengingat siang itu matahari cukup terik untuk membakar kulit.

Ketika perahu yang kami tumpangi mulai meninggalkan dermaga, kami langsung disuguhkan dengan pemandangan sungai yang tepiannya terdapat bebatuan kapur (karst) yang tersusun acak nan indah seakan mereka sengaja menyambut kedatangan kami dengan keindahan alaminya. Deretan pohon nipah dan bakau yang merupakan ciri khas tanaman di muara juga tumbuh subur di sepanjang tepian sungai. 10 menit perjalanan menggunakan perahu terlihat gugusan bukit-bukit besar perpaduan indah antara batuan karst dan hijaunya dedauan. Tidak berhenti di sana perahu kami menyusuri celah gua karst yang menakjubkan untuk menuju tujuan kami yaitu Desa Rammang-Rammang. "Wow... Indonesia itu sangat lengkap dan terus menerus mengumbar pesonanya. Kita tak perlu jauh-jauh ke Vietnam untuk melihat Delta Sungai Mekong. Desa Rammang-Rammang juga tak kalah Indahnya" Seru ku.

Tak terasa perahu kami pun akhirnya berlabuh di dermaga Desa Rammang-Rammang tepatnya di kampung Berua. Satu kata yang kami rasakan di Kampung ini, "DAMAI" iya benar terasa sangat damai, jauh dari hiruk pikuk kesibukan perkotaan. Susana Kampung Berua cocok dinikmati cukup dengan duduk santai sambil menyeruput hangatnya kopi toraja sambil menunggu sang fajar terbenam di balik perbukitan batuan karst yang mempesona.

Kampung Berua ini dihuni oleh beberapa kepala keluarga, mungkin tidak sampai sepuluh kepala kelurga karena bisa terlihat dari jumlah rumah panggung khas suku bugis Makassar yang sedikit juga berjarak agak berjauhan. Pekerjaan warga kampung berua sehari-hari yaitu bertani padi, berternak sapi, ayam, bebek, dan ikan air tawar, serta menyewakan perahu mereka untuk wisatawan.

Indahnya Desa Rammang-Rammang sulit untuk dilupakan walaupun sekarang kami sudah kembali lagi ke sibuknya kehidupan ibu kota. Suatu saat kami akan ke desa ini lagi dan tak lupa membawa gitar untuk menghabiskan malam yang sunyi dengan lantunan lagu-lagu indah.





"Oh Rammang-Rammang 
Bukanlah Sungai Mekong
Oh Indahnya Indonesia
Bukanlah Vietnam atau Cina"



Don't forget to like and subscribe my youtube channel


Comments

Popular posts from this blog

Artikel Prosedur Evaluasi Pembelajaran

Media Transmisi Wireless (Nirkabel) Pada Media Komunikasi Data

Cyber Crime (Kejahatan Dunia Maya)